Kalau beberapa tahun lalu anak-anak lebih sering bermain bola di lapangan kampung, sekarang pilihannya mulai beragam. Salah satu yang sedang ramai adalah mini soccer. Lapangannya tidak sebesar lapangan sepak bola biasa, tetapi tetap menggunakan rumput dan dimainkan secara berkelompok.

Di sejumlah tempat, jadwal lapangan mini soccer pada sore dan malam hari bahkan harus dipesan lebih dulu. Penggunanya bukan hanya klub. Ada anak sekolah, mahasiswa, karyawan kantor sampai keluarga yang sengaja datang untuk menemani anak berlatih.
Melihat ramainya peminat, wajar jika muncul pertanyaan: apakah lapangan mini soccer bisa dijadikan usaha?
Jawabannya bisa, tetapi modalnya memang cukup besar. Usaha ini bukan seperti membuka toko kecil yang dapat dimulai dengan menyewa satu ruangan. Pemilik membutuhkan lahan luas, konstruksi yang benar dan dana operasional agar lapangan tetap terawat setelah dibuka.
Kenapa Anak Muda Menyukai Mini Soccer?
Salah satu alasan sederhananya adalah mencari pemain tidak terlalu sulit. Permainan dapat dimulai dengan jumlah anggota yang lebih sedikit dibandingkan sepak bola di lapangan besar.
Waktu bermainnya juga lebih mudah disesuaikan. Satu kelompok bisa memesan lapangan selama satu atau dua jam, lalu jadwal berikutnya digunakan kelompok lain. Cocok untuk anak sekolah maupun orang kantoran yang hanya mempunyai waktu luang pada sore atau malam hari.
Bagi para orang tua, mini soccer dapat menjadi pilihan kegiatan fisik untuk anak. Mereka tidak hanya berlari mengejar bola, tetapi juga belajar bermain dalam tim, bergantian dan mengikuti arahan pelatih.
Namun, orang tua biasanya melihat hal-hal yang berbeda dari pemain. Anak mungkin cukup senang melihat rumput yang hijau dan gawang yang bagus. Sementara itu, orang tua akan memperhatikan apakah tempat parkirnya aman, toiletnya bersih, pagar lapangan cukup kuat dan tersedia tempat duduk selama menunggu latihan.
Hal-hal seperti ini kelihatannya kecil, tetapi bisa membuat pengunjung memutuskan untuk kembali atau mencari lapangan lain.
Luas Tanah yang Harus Disiapkan
Ukuran mini soccer cukup beragam. Ada lapangan yang dibuat sekitar 20 x 40 meter, sementara lapangan yang lebih besar bisa menggunakan ukuran 30 x 50 meter.
Kalau menggunakan ukuran 30 x 50 meter, area bermainnya saja sudah mencapai 1.500 meter persegi. Pemilik masih harus menyediakan ruang di sekeliling lapangan untuk pagar, jalur pemain dan bangku cadangan.

Belum lagi jika ingin menambahkan tempat parkir, toilet, musala, kantin kecil atau tempat duduk bagi orang tua. Artinya, luas tanah yang dibutuhkan akan lebih besar daripada ukuran lapangan yang terlihat.
Lokasinya tidak harus selalu di tengah kota. Lahan di dekat kawasan perumahan, sekolah atau kampus juga cukup menarik selama akses jalannya mudah dan lingkungannya aman pada malam hari.
Sebelum membeli atau menyewa tanah, ada baiknya datang ke lokasi pada jam yang berbeda. Jalan yang lengang pada siang hari belum tentu nyaman dilalui saat malam. Begitu juga dengan area parkir. Jangan sampai pengunjung terpaksa memarkir kendaraan di bahu jalan dan mengganggu warga sekitar.
Berapa Modal yang Dibutuhkan?
Untuk lapangan outdoor berukuran 30 x 50 meter, biaya pembangunan fisiknya dapat berada di kisaran Rp750 juta hingga Rp800 juta. Angka ini masih berupa gambaran dan belum memasukkan harga tanah.
Perbedaan kondisi lahan dapat membuat biaya proyek berubah cukup jauh. Tanah yang sudah rata dan padat tentu membutuhkan penanganan berbeda dari lahan bekas sawah atau area yang sering tergenang.

Sebelum menentukan anggaran, calon pemilik dapat mempelajari perkiraan modal pembangunan lapangan mini soccer berdasarkan komponen pekerjaannya. Dengan begitu, pemilik tidak hanya menerima satu angka dari kontraktor tanpa memahami biaya tersebut digunakan untuk apa.
Secara umum, dana pembangunan akan terbagi untuk pembersihan dan pemadatan tanah, pembuatan saluran air, lapisan dasar, rumput sintetis, pagar, lampu, gawang serta fasilitas sederhana.
Jika ingin membangun ruang ganti permanen, tribun, kantin dan area parkir yang lebih rapi, anggarannya tentu bertambah. Sebaliknya, sebagian fasilitas bisa dibuat belakangan setelah lapangan mulai menghasilkan pemasukan.
Bagian yang Tidak Terlihat Justru Penting
Ketika memilih lapangan, pengunjung mungkin pertama kali melihat warna dan kerapian rumput. Namun, ketahanan sebuah lapangan justru banyak ditentukan oleh bagian bawahnya.
Tanah perlu diratakan dan dipadatkan sebelum lapisan berikutnya dipasang. Jika proses ini kurang baik, permukaan lapangan bisa turun atau bergelombang setelah digunakan beberapa waktu.
Drainase juga tidak boleh dianggap sepele. Lapangan outdoor akan langsung terkena hujan. Tanpa aliran air yang baik, genangan bisa bertahan lama dan jadwal penyewaan terpaksa dibatalkan.
Bayangkan jika lapangan sudah memiliki jadwal latihan anak setiap akhir pekan, lalu kegiatan terus tertunda karena lapangan belum kering. Pengelola bukan hanya kehilangan pemasukan, tetapi juga bisa kehilangan kepercayaan pelanggan.
Itulah sebabnya harga proyek yang murah belum tentu benar-benar menghemat biaya. Pemilik perlu memastikan spesifikasi lapisan dasar, saluran air dan proses pemadatan tercantum dengan jelas di dalam penawaran.
Memilih Rumput Tidak Cukup dari Warnanya
Rumput sintetis untuk olahraga berbeda dari rumput dekorasi yang biasa digunakan di taman atau teras rumah. Lapangan mini soccer akan menerima gesekan sepatu dan pijakan berulang hampir setiap hari.
Saat membandingkan produk, jangan hanya bertanya berapa harga per meter. Tanyakan pula tinggi serat, kerapatan jahitan, jenis bahan, kebutuhan pasir silika dan garansi yang diberikan.
Proses pemasangannya juga berpengaruh. Sambungan antarroll harus rapi agar tidak mudah terbuka. Garis permainan perlu dipasang sesuai ukuran dan permukaan lapangan tidak boleh membentuk gelombang.
Calon pemilik bisa meminta beberapa pilihan spesifikasi kepada penyedia kebutuhan lapangan Soccergrass.id, lalu menyesuaikannya dengan intensitas pemakaian serta anggaran yang tersedia. Membandingkan spesifikasi seperti ini lebih masuk akal daripada langsung mengambil pilihan termurah.
Lapangan yang Nyaman untuk Keluarga
Jika target pengguna mencakup anak sekolah dan akademi sepak bola, fasilitas untuk keluarga sebaiknya ikut dipikirkan.
Tidak perlu langsung membangun ruang tunggu yang mewah. Beberapa kursi di tempat teduh, toilet bersih dan area parkir yang cukup sudah sangat membantu. Orang tua dapat menunggu anak latihan tanpa harus berdiri atau mencari tempat lain.
Penerangan di luar lapangan juga penting. Kadang lampu di area bermain sudah terang, tetapi jalan menuju parkiran justru gelap. Kondisi seperti ini tentu membuat orang tua merasa kurang nyaman saat menjemput anak pada malam hari.
Kantin sederhana bisa menjadi tambahan yang menarik. Selain menyediakan air minum untuk pemain, kantin dapat menghasilkan pemasukan di luar biaya sewa lapangan.
Pengelola juga perlu menyediakan kotak pertolongan pertama. Cedera ringan seperti lecet atau terkilir bisa terjadi saat bermain. Setidaknya, ada perlengkapan dasar yang dapat digunakan sambil menunggu penanganan berikutnya.
Menghitung Pemasukan dengan Realistis
Misalnya, harga sewa lapangan ditetapkan Rp500 ribu per jam. Jika rata-rata terisi empat jam setiap hari, omzet kotornya sekitar Rp60 juta dalam sebulan.
Terdengar besar, tetapi angka itu belum menjadi keuntungan. Pengelola masih harus membayar listrik, gaji penjaga, kebersihan, perawatan rumput, promosi dan sewa tanah jika lahannya bukan milik sendiri.
Lapangan juga tidak selalu penuh setiap hari. Sore, malam dan akhir pekan mungkin ramai, sedangkan jadwal pagi pada hari kerja sering kali lebih sulit terisi.
Untuk mengatasinya, pengelola dapat menawarkan kerja sama dengan sekolah atau akademi sepak bola. Paket latihan rutin akan membantu mengisi jadwal sekaligus memberikan pemasukan yang lebih stabil.
Turnamen antarsekolah atau komunitas juga bisa diselenggarakan sesekali. Selain menambah pemasukan, kegiatan semacam ini membuat lapangan lebih dikenal tanpa harus terus-menerus mengandalkan iklan.
Jangan Lupa Menyiapkan Uang Cadangan
Modal sebaiknya tidak dihabiskan seluruhnya untuk pembangunan. Setelah lapangan selesai, usaha masih membutuhkan dana untuk berjalan.
Sediakan biaya operasional setidaknya untuk beberapa bulan pertama. Lapangan baru memerlukan waktu untuk mendapatkan pelanggan tetap, jadi jangan langsung menghitung semua jadwal akan penuh sejak minggu pertama.
Dana cadangan proyek juga dibutuhkan. Saat pengerjaan berlangsung, bisa saja ditemukan tanah yang harus diuruk kembali atau saluran air yang perlu diperbesar. Menyiapkan tambahan sekitar 10 persen dari nilai pembangunan dapat mengurangi risiko pekerjaan berhenti.
Jadi, Apakah Layak Dicoba?
Usaha lapangan mini soccer masih memiliki peluang, terlebih jika dibangun di sekitar kawasan yang banyak dihuni keluarga muda, pelajar dan komunitas olahraga.
Namun, melihat lapangan lain ramai saja belum cukup. Calon pemilik tetap perlu melakukan survei, menghitung kemampuan pasar dan mencatat seluruh kebutuhan biaya sejak awal.
Lapangan yang bagus bukan hanya lapangan dengan rumput hijau. Akses yang mudah, jadwal yang tertib, kebersihan serta pelayanan ramah juga menentukan apakah pengunjung ingin kembali.
Bila dikelola dengan serius, lapangan mini soccer dapat menjadi lebih dari tempat menyewa lapangan. Tempat ini bisa tumbuh menjadi ruang bagi anak dan anak muda untuk bergerak, bertemu teman serta menghabiskan waktu dengan kegiatan yang positif.

Halo, Saya Iim Rohimah
Seorang full time blogger, mom of two boys, suka piknik tipis-tipis, dan sharing pengalaman sehari-hari. Blog diarybunda.web.id adalah tempat mencurahkan segala hal terkait keluarga, dunia perempuan, dan segala topik lifestyle. Enjoy reading…



Tinggalkan Balasan